Selasa, 27 Oktober 2015

Benih Manis Memori Hati

Sesuatu yang indah, dan telah lewat barusaja kusesali. Yasudahlah mau dikata apalagi, 'toh nasipun sudah jadi bubur sekarang, semua sudah terlambat waktunya, jadi apa yang bisa kulakukan? Hanya mengenang & memaknai kenangan itu, sama seperti menghias pusara orang tercinta seindah-indahnya selama pusara tersebut & Bumi masih memperkenankannya. Ya, ada batas-batas, jelas itu ~

Bunga-bunga mimpi itu semakin hari semakin mekar, dan aku hanya bisa sedih merenunginya. Semata-mata karena kujaga laku ku agar tetap berada di rel yang benar. Aku tahu, mungkin pusara itu tak merasakan hal itu, ia tengah hidup dalam kecintaannya pada seseorang disana. Ya, seseorang yang bisa ia harapkan & bisa menjadi jawaban atas semua doa-doanya. Dan yang pasti, hadirnya lebih dekat dengannya, tak sejauh aku disini.

Dalam bayangku akan dia, aku sendiri tak tau bagaimana aku harus bersikap, suka atau duka. Suka karena ia kini memiliki harapan yang lebih baik & serupa dengannya, atau duka karena kepedihan akan masalalu yang tak mungkin diputar kembali

Aku menutup mataku saat aku bisa menggapai hatinya. Kini pintu itu seolah kembali tertutup & hanya bisa dijangkau dengan mengenang & dengan persahabatan. Itulah semata-mata yang bisa kulakukan, sembari menahan jangan sampai setetes air matapun membasahi lerung hatiku terdalam ~




Malam, impian terindahku ♡ ♡ ♡
salam hati terdalamku untukmu yang kini tak mungkin tergapai
nyenyakkan lelapmu malam ini, dan terbangunlah esok dengan harapan
jangan terbangun dan menjadi aku yang hidup dalam memori senantiasa

Senin, 15 Juni 2015

Tangisan Malam

Aku tahu, kebagiaan itu adalah hak atas perjuangan panjang kalian. Sebuah harga yang pantas dan sepadan akan penantian panjang kalian satu sama lain. Dan, aku cuma salah satu batu pijakan menuju kebahagiaan kalian, bukan apa-apa. Aku sejatinya tak berharap banyak dari kalian, karena bahkan sebenarnya aku ini batu sandungan kebahagiaan kalian. Aku tahu & paham benar hal itu ...

Tapi, dari sisi terdalam Hati & jiwa ini, aku mustahil membuang rasa yang aku pernah berikan untukmu. Kamu memang semula pelarianku, namun semua karena semata aku memandang niat keinginanmu, sehingga aku mengutarakan pula perasaanku waktu itu.

Bukan masalah ada hal-hal indah yang kita telah lakukan, namun semata karena Hati ini telah sempat menerimamu seutuhnya, dan kamulah yang banyak menemaniku dalam singkatnya kebersamaan kita. Kamu terlalu manis, dengan segala indah hatimu yang telah kau beri dan tunjukkan pada polosnya nuraniku.

Banyak hal bentrokan yang terjadi, dan kamu bersikeras aku harus melangkah dengan caramu. Tapi bagaimana, ini aku dan dirimu, itu kamu dan dirimu: jika sepikiran tanpa mendusta nurani maka kita (masih) berjalan beriring, namun jika (faktanya) kita belum bisa sepikiran juga maka kita seperti sekarang. Ketidak-bersamaan inilah yang aku selalu risaukan, dan aku mohonkan pada Langit & Bumi

Kelak, kamu dan seseorang disana, dalam waktu berbeda, harus membayar kebersamaan denganku kelak. Kebersamaan yang aku pinta dengan air mata yang muncul dari tangis jiwa yang terdalam.

Dalam bohongmu, kamu janjikan hal itu, maka kelak setelah ini selesai kamulah yang harus membayar setiap tangis jiwa yg kini membanjiri hati ini.


Senin, 08 Juni 2015

Bait Pengingat Memori

Sosokmu di hati ini kuakui memang yang terindah. Tapi, aku tak bisa mengorbankan sesuatu yang sangat, bahkan paling berharga dalam hidupku ini untuk & demi seseorang yang tak mau berkoban hidup, hati & Cinta nya pula hanya bagiku.

3 bulan, malah hampir kuberi waktu baginya hanpir setahun untuk memikirkan arti hadirku baginya, tapi tak berguna rasanya kesia-siaan itu, penantianku saat itu tak dipandangnya samasekali. Baginya, aku hanya sampingan dan bahan "mainan" semata, yang tak punya arti serta tak boleh menuntut lebih.

Penantian mustahil yang kini terjawab dengan jawaban lain yang tidak kuduga, bahkan ternyata melebihi apa yang kuharap, mengisi hampir seluruh sisa kekosongan hidupku yang terampas atas kepergian dan pengabaiannya dulu.

Kini, tak ada lagi alasan untuk mengulang kembali sejarah, kecuali kelak waktu & keadaan membalik semuanya sedemikian rupa sehingga seperti apa yang seharusnya kuharapkan semula, waktu itu ~

Sabtu, 04 April 2015

Hati & Cinta: Rahasia Ilahi

Dan, tak sepenggal air mataku mengering dan berhenti membasahi keopak mataku. Tak ada yang bisa diharap dari kehidupan ini akan dia, tapi mimpi ini tak kunjung berakhir. Sampai saat ini, aku masih bisa bermimpi akan ia yang sangat kukasihi Jiwa dan Hatinya. Ya, sepenggal saja yang telah diberikannya, tapi bagiku itu sebuah kebahagiaan.

Tak ada yang dicari seorangpun di dunia ini selain daripada kebahagiannya masing-masing, apapun itu wujudnya. Karena lewat kebahagiaan itu seseorang akan "utuh", namun tanpanya seseorang akan hampa. 

Kehilangan dan keutuhan dalam hidupku saling tumpang-tindih, tanpa aku bisa menjawab dan memecahkan misterinya. Itulah hidup, Hati, dan Cinta: misteri Ilahi yang sulit diungkap ~




" ... Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali, sekali lagi untuk Mencintanyanamun bila waktuku telah habis dengannya, biarkan Cinta ini, biarkan Cinta ini, hidup untuk sekali ini saja ... "
(Sekali Ini Saja - Glenn Fredly) 

Senin, 30 Maret 2015

Rasa yang mendosakan, dan waktu yang 'kan menghapusnya

Aku sangat yakin, tak sedikitpun kini terbersit di pikiranmu akan rasa penyesalan telah melepasku dari dekapanmu ...

Ketahuilah bahkan sejak timbul rasa itu, hingga hari ini, tak sedetikpun rasa itu berlalu dari hati, pikir, dan jiwaku. Setiap deru nafasku, aku punya kekhawatiran akanmu. Selalu dan senantiasa tak ada detik berlalu tanpa angan tentangmu. 

Mungkin aku salah, sebuah memori akan masalalu terkenang dikala masa depanku telah dibabarkan jelas dan gamblang. Aku berdosa pada Alam, dan ia yang menaruh mimpinya di pundakku. Tapi, bisakah aku menyalahkan Hati? Bisakah aku menyalahkan Rasa? Entahlah, hanya Alam sendiri yang mampu memberikan jawabnya ...

Tapi satu tanyaku, mengapa kami harus bertemu begitu singkat, dan bahkan terlalu dini untuk kebersamaan di masa kelahiran-kelahiran mendatang. Tahukah bahwa ini menyiksa? Tahukah bahwa ini menyakitkan? Kerinduan tetaplah luka, sampai kerinduan itu berbalas, dan Cinta adalah racun yang ditengguk sendiri bila itu tak berbalas & tak berbunga ~

Sempat aku berfikir, mungkinkah jalan dari rasa ini adalah waktu dan keadaan yang merubahnya, memudarkan Rasa dan menghapuskan dosa atas rasa itu. Maka kini, biar waktu yang menjawab. Karena aku tak mampu merubah Rasa ini sendirian ...

Jumat, 27 Maret 2015

Penyesalan dan Kenangan

Kerinduan yang demikian meluap-luap padanya, tak'kan mudah terpupuskan, dan tak mudah pula digambarkan. Sama seperti hembusan angin yang tak mungkin dapat dilihat, namun terasa begitu dekat dan nyata.

Waktu-waktu kebersamaan yang amat kurindukan itu kini sulit terulang. Bukan hal yang mustahil, namun sulit terjadi. Andai waktu benar dapat terulang, biar kumulai semuanya lagi dari awal, tanpa ragu akan kujalani semuanya dengan sebaik-baiknya untuknya. Untuk jadi korban penipuannya, semata-mata karena & demi Cinta ~

Aku masih begitu mencintai dia, namun waktu & keadaan tak memungkinkannya ....





Minggu, 22 Maret 2015

Iman akan Cinta

"... kusadari meski Bintang bersinar di langit indah, aku 'tak akan mampu menggapai sinarnya┃dirimu 'kan s'lalu bersama dengannya, 'tak'kan berubah meski Cintaku kamu ..."
(Cintaku Kamu - Andhisa Paramitha Putri Raharjo) 



Hidup adalah menjalani hari, memenuhinya dengan segala nilai-nilai yang kita anggap baik dan mulia, termasuk Cinta di dalamnya. Ketika kita kehilangan, atau merasa sudah berkurang daripada nilai-nilai tersebut, maka sisalah kealfaan dalam jiwa. Ada yang kurang dan tak lengkap.

Setelah berlalunya dia, "someone special" di masa laluku, awalnya benci & dendam itu lahir, tapi sesungguhnya semua itu atas dasar usaha untuk melupakan, karena begitu dalamnya rasa di hati ini untuknya. Hati tak mungkin berdusta ...

Hampir tiap saat, lagu2 kenangan itu kuputar, dan bahkan sesering & sebisa mungkin tak berhenti. Tak kubiarkan pikir ini berlalu daripada kenangan akan ia. Aku masih ingin mengingat, bila mungkin mengilang sedikit hal-hal indah bersamanya. Selama itu bisa membuatku yakin kelak, di suatu masa yang akan datang, nantinya, aku akan bersama-sama dengannya, berbagi hati & hidum kami masing-masing hanya untuk pasangan kami: aku berbagi dengannya & dia berbagi denganku. Mengikat ikrar dihadapan Semesta, dan bersatu untuk waktu-waktu mendatang, selama yang kami bisa. Itu saja, tak lebih.

Mungkin hari ini ia tak bisa & enggan memenuhi itu, namun jiwa terdalamku yang berketulusan, yang bersatu dengan Semesta, sudah sangat yakin dan pasti bahwa nantinya kami akan bersama, meski entah kapan waktu itu datang ~

Aku beriman, pada Cinta & kemurnianNya yang Termulia. Kudus & Agunglah namanya ~  



"...meski t'lah kau semaikan Cinta dibalik senyuman indah, kau jadikan seakan nyata seolah kau belahan jiwa┃meskipun 'tak mungkin lagi 'tuk menjadi pasanganku, namun 'ku yakin di jiwa kau kekasih hati ... "
(Soulmate - Kahitna)

Jumat, 20 Maret 2015

Kami, Seseorang Disana & Kekasihnya

2 tahunan sudah rasanya aku berpisah dari dia, tapi bahkan sampai saat ini hatiku masih ada untuknya. Di deranya samudra Cinta ia & kekasih jiwanya yang amat "complicated" sebenarnya aku ingin mengambil dia sebagai pendamping. Keinginan yang ada jauh sebelum hari ini, 3 tahun yang lalu, yang aku telah utarakan padanya. Namun, ia enggan. Dalil2 dikemukakan sebagai alasan, usaha2 ditunjukkan sebagai alibi. Tapi, semua sia2 karena ada yang sudah mencuri startku ~

Sebenarnya, aku masih sangat ingin peduli, dan terus berbagi Cinta, Hati & hidup ini dengannya, namun Alam berkata lain... Waktu dengan cepatnya berlalu, dan 'tak seorangpun menduga hal ini datang begitu cepat ... Calon pendamping hidupku telah hadir saat usiaku genap akan menginjak 23, lalu ~

Antara bahagia, namun bimbang, itulah isi rasa ini. Rel hidupku memang disini, sudah benar. Hanya aku saja yang dengan bodohnya meragukan hal itu. Semua demi Hati dan perasaan yang tak berujung & tak bermuara, serta tak pernah (bisa) (di)salah(kan) ...

Aku merasa menjalani kehidupan yang serba salah. Salah, bila aku mengikuti Hati & rasa sepenuhnya hingga rasaku bercabang, tapi salah pula jika aku enggan mengikuti Hati ini. Cinta & Sayang ini untuknya terlalu dalam, dan terlalu luas, sampai saat aku haru menakarnya itupun tak habis-habisnya. Kalau dirubah, seumpama menawarkan lautan yang asin. Kadar keasinannya mungkin saja turun 0,000 sekian persen, tapi tetap saja rasa asin itu tak lantas hilang ~






Malam demi malam berlalu, hari demi hari berganti
Tapi Hati ini tak mudah berlalu
Seumpama Wajra yang tak tergoyah
Dan bagai semadi seorang Begawan

Cinta itu Murni
Hati itu Suci
Rasa 'tak bisa dusta
Jiwa 'tak mungkin cemar
Lantas, salahkah jalan ini?

Apapun yang telah dihirup
Akan manunggal dengan si penghirup
Menyatu dan tak terpisahkan
Terkikis, namun 'tak mungkin habis

Apa yang bersumber, memiliki muara
Hati ini seumpama samudra, yang sejatinya tak berawal
Jiwa ini seumbama semesta, yang sejatinya tak berasal
Lantas, bagaimana seseorang mau merubah Hati lainnya
Bahkan pemilik Hati itupun tak bisa merubahnya

Jalan Hati dan jalan pikir kadang sejalan
Namun, acap juga tak sejalan
Lantas, bila dikata Hati yang murni bisa salah
Bagaimana mungkin pikir tak bisa cela


Kamis, 19 Maret 2015

Salah siapa? Apa yang salah?

Ya, genap sudah 9 bulan lebih 4 hari kami menjalani "ikatan hati" ini, sesuatu yang patut amat kusyukuri. Sudah cukup banyak cerita antara kami, dan ada titik-titik dimana toleransi & kesabaran kami masing-masing diuji. 9 bulan bukan waktu yang singkat untuk sebuah hubungan, namun amat sangat awal untuk perjalanan panjang sepasang hati.

Dan.... bulan inipun aku masih terngiang, dalam benakku, sebuah kisah lama terindah yang pernah kulalui bersama "someone special" -ku saat itu. yang bahkan sampai hari ini pasih punya tempat khususnya di Hati terdalam ini. Tempat yang bahkan aku sendiri ragu, layak dan bolehkah ia mendapat tempat itu. Tapi Hati tak bisa bohong, tempat itu memang akan selalu menjadi tempatnya.

Cerita-cerita indah lama itu selalu membuatku bertanya, bolehkah ada pembagian hati yang lebih besar lagi untuknya, untuk sosok istimewa yang hingga hari ini senantiasa aku tak bisa jauh darinya. Ya, hal ini jelas adalah sesuatu yang, kata orang, adalah kesalahan fatal: ketidak-setiaan.

Hati memang tak bisa disalahkan atas semua perihal ini, karena Hati dapat dipastikan hanya bisa berjalan pada jalurnya. Rasa ini bersisa & perlahan terus menghinggapi jiwaku ini. Rasa yang, aku tak tahu, ini "sejatinya" benar atau salah.

Ada keinginan mengulang hal-hal indah bersama sosok itu, hanya antar kami berdua yang tahu, tapi mungkinkah? Dan, pantaskah kami melakukan itu? Kalaupun ia menginginkannya, akupun akan berusaha menyanggupinya, semata-mata karena hati. Bukan tekadku untuk sengaja "bermain Hati", tak ada sedikit maksudku untuk bermain-main dengan perasaan. Tapi, bagaimana dengan Hatiku? Apakah Hati ini memang tertakdir untuk tersiksa? Lalu, salahkah ini? Dan siapa yang salah atas semua ini, dan mengapa?

Biar waktu yang menjawabkan, dan hanya kami, aku dan "someone special" -ku di masa lalu itu yang mengetahuinya. Tak ada harapan dariku ingin atau tidak, karena dua-duanya "salah", jadi biar waktu yang memutuskan supaya semua menjadi kejutan pada waktunya nanti.



Malam menjelang pagi, Dunia ~
Istirahat nyenyaklah 2 sosok special di hidupku, semoga nanti pagi harimu indah & berkah.
Teriring Doa & Cinta dari seseorang yang menganggap kalian Special ~