Aku tahu, kebagiaan itu adalah hak atas perjuangan panjang kalian. Sebuah harga yang pantas dan sepadan akan penantian panjang kalian satu sama lain. Dan, aku cuma salah satu batu pijakan menuju kebahagiaan kalian, bukan apa-apa. Aku sejatinya tak berharap banyak dari kalian, karena bahkan sebenarnya aku ini batu sandungan kebahagiaan kalian. Aku tahu & paham benar hal itu ...
Tapi, dari sisi terdalam Hati & jiwa ini, aku mustahil membuang rasa yang aku pernah berikan untukmu. Kamu memang semula pelarianku, namun semua karena semata aku memandang niat keinginanmu, sehingga aku mengutarakan pula perasaanku waktu itu.
Bukan masalah ada hal-hal indah yang kita telah lakukan, namun semata karena Hati ini telah sempat menerimamu seutuhnya, dan kamulah yang banyak menemaniku dalam singkatnya kebersamaan kita. Kamu terlalu manis, dengan segala indah hatimu yang telah kau beri dan tunjukkan pada polosnya nuraniku.
Banyak hal bentrokan yang terjadi, dan kamu bersikeras aku harus melangkah dengan caramu. Tapi bagaimana, ini aku dan dirimu, itu kamu dan dirimu: jika sepikiran tanpa mendusta nurani maka kita (masih) berjalan beriring, namun jika (faktanya) kita belum bisa sepikiran juga maka kita seperti sekarang. Ketidak-bersamaan inilah yang aku selalu risaukan, dan aku mohonkan pada Langit & Bumi
Kelak, kamu dan seseorang disana, dalam waktu berbeda, harus membayar kebersamaan denganku kelak. Kebersamaan yang aku pinta dengan air mata yang muncul dari tangis jiwa yang terdalam.
Dalam bohongmu, kamu janjikan hal itu, maka kelak setelah ini selesai kamulah yang harus membayar setiap tangis jiwa yg kini membanjiri hati ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar