Kamis, 14 Agustus 2014

Again, again, and finally... again ~

Lagi, lagi, lagi, dan lagi, sebuah fase berulang yang agak menyebalkan. Untuk kesekian kali, seseorang dari masa lalu, yang seharusnya tak mengusikku, memnanyakan soal "BLT" LAGI baginya, "BLT" yang sama seperti yang kuberikan dulu padanya, atas nama hati. Lagi-lagi hati... ya membongi hati demi harapan akan kebahagiaan yang semu semata, yang ternyata harapannya pun palsu. Yasudahlah, abaikanlah.

Lagi-lagi juga ia mengajakku bertemu, dan yasudahlah abaikan saja, meski awalnya kuberi pengingkaran, tapi untuk kali berikutnya kuabaikan, tetap ini komitmenku...

Siklus mata rantai berulang yang entah bagaimana memutusnya. Akankah ia akan terputus otomatis, atau harus salah satunya yang memutuskannya? Kita lihat saja nanti, biar waktu yang menjawabnya. Ya, semoga saja terputus dengan sendirinya, atau ia yang sadar utk memutuskannya, sehingga tak mengganggu hubunganku dengan Someone, yang dijodohkan Alam padaku ...

Adalah dosa bilamana aku melakukan "pengikatan kembali" dengan masa laluku, disaat calon mempelaiku telah berada di sisiku & terus mendampingiku ~

Kuatkan aku ya Ibunda Semesta Alam, agar aku mampu menjaganya dengan baik ~
Bentuklah aku, Ayahanda Surgawi, supaya aku dapat mendampinginya dengan Kesetiaan & Cinta ~











H-1 genap satu bulan kami berkomitmen untuk bersama
Dalam naungan gemintang & sisa-sisa purnama ~

Rabu, 16 Juli 2014

140717 Dini Hari

Genap sudah 1 bulan kami bersama, semoga kelak ke depannya kami bisa terus menjaga amanah Ibunda Pertiwi & Ayahanda Surgawi. Dan tetap, kami 'tak bisa menjalani semua ini tanpa restu Mereka.

Satu bulan ini adalah awal yang baik, sangat baik. Senantiasa dari waktu ke waktu kami saling membuka diri satu sama lain melalui kisah-kisah lampau kami. Berbagi kebahagiaan & saling support sekaligus mengingatkan satu sama lain. Tetap dari jiwa terdalam ini, masih merasa banyak yang perlu aku perbaiki utk kualitas hubungan yang semakin baik, selalu.

Di sisi lain, Spiritual ku mengalami perubahan. Aku yang "back to normal", as normal as regularly human beings, begitulah bisa kugambarkan. Pengenalan sosok Tuhan & Aku yang sejati, sebagai manusia yang buta akan hakikat semesta raya. Senantiasa dalam pencarian sosok Guru Spiritual yang Sejati, yang hingga detik ini belum ditemui...

Aku merasa, pendamping hidupku inilah yang kini menjadi mata & telinga Supernatural ku kini. Aku kembali jadi diriku apa adanya sepenuhnya. Kosong, rapuh & tanpa daya. Tapi, Jaganatha senantiasa tak meninggalkan mereka yang rapuh itu sendirian, mereka selalu disertai pendamping yang menuntun jalannya di sisi dimana ia "buta". Kurasa, inilah kami. 100% saling support satu sama lain.

Ya, mungkin sekian kisahku malam ini. Semoga semuanya berbahagia ...

Senantiasa salam rindu bagi kasihku jauh disana, atas nama Cinta
dari seseorang yang sangat mengasihimu ~

Senin, 07 Juli 2014

Bersatunya Dua Hati

16 Juni 2014, hari dimana kami memutuskan untuk memulai sesuatu, awal dari segala perkenalan kami dari hati ke hati serta seluruh aspek kehidupan kami ...

Banyak proses panjang yang harus kami sama-sama lewati untuk dapat bersanding & disatukan secara sakral kelak. Yaaa.... banyak hal yang sampai saat ini aku sering sembunyikan darinya. Bukan sesuatu yg gawat, namun karena hal itu membosankan sebenarnya. dan aku takut ia jenuh dengan monotonitas aktifitasku di luaran sana yang melulu seputar Supra & Supri. Ya gak semua sih, hanya 80%. Ya inilah rutinitasku. Ada waktunya aku harus mengakuinya blak-blakan 100% dimatanya. Tapi semua butuh waktu...

Kemarin, aku bersama si kakak yang resek itu, menemaninya ke sebuah Bio rumahan yang in progress renovasi, sudah sampai 85% rampung. Sisanya pemasangan atribut elektrik, pemindahan + pengadaan Kimsien, dkk. Ok, semua berjalan mulus pada awalnya, dan banyak orang-orang baru yang kukenal. Hingga waktu makan malam, seorang praktisi, kenalan baru, berceloteh tentang karakteristik calonku ini dari kacamatanya yang kuanggap lancang. Ok, aku tidak etis demikian, tapi itulah sikapku. Hidup punya pilihan & aku memilih dia.

Orang itu mempermasalahkan alm. ayahnya yang menurut versinya adalah jawara di masanya & ia berasal dari garis leluhur para praktisi Supernatural, serta betapa kuatnya Spiritual keluarganya. Any problems? Justru itulah yang aku mimpikan untuk dapatkan, aku doakan senantiasa, karena keluarga demikianlah yang mampu menerimaku apa adanya. Jadi, jangan coba dongengi aku dengan ketakutan-ketakutan semacam itu, aku justru mencarinya. Masalah ekonomis, kurasa wajar bagi wanita. Ia hanya mau calon ayah terbaik bagi anak-anaknya & suami, serta imam baginya.

Proses saling mengenal ini aku harap menyenangkan & berlangsung lancar hingga akhir yang kuharapkan. Sebagaimana Langit & Bumi menjodohkan kami, Mereka akan melancarkan jalan kami, menyingkirkan halangan-halangan dari hubungan suci kami, hingga akhirnya kami sama-sama berlabuh di dermaga indah itu, untuk berpindah dalam 1 perahu besar, yaitu keluarga, untuk kemudian mengarungi samudera yang luas, hingga hanya maut yang memisahkan kami sementara, dan kami akan bertemu lagi kelak. Aku percaya itu, semua karena Ibu Semesta Alam, Ia meneguhkanku akan segala ketakutanku.



Semoga kami tak lagi terpisah oleh sebab apapun, semata-mata karena ego kami, atau karena orang ketiga. Biarkan kami terus satu dalam ikatan suci ini, bahkan hingga mautpun tak dapat memisahkan ...

Minggu, 08 Juni 2014

Kebimbangan dan Jawabannya ~

Untuk waktu yang sudah-sudah, aku sangat antusias mengikuti naluriku untuk kembali pada masa laluku. Masa lalu yang kini nampak lebih baik. Meski pada akhirnya ia tak dapat memutuskan dapatkah aku menunggu atau tidak, dan sampai kapan aku harus menunggu.

Ok. Bolehlah dia atau orang lain beranggapan bahwa aku ini pengkhianat hati, seseorang yang berhianat pada naluri jiwanya, mimpinya dan seseorang/sesuatu yang awalnya menjadi target hidupnya. Aku bimbang, pada awalnya, apakah aku memang harus menunggu terus ia yang membuatku seolah menjadi "The Hangged Man" dalam Major Arcana Riderwaite Tarot, alias korban PHP, atau "melihat" pada seseorang baru yang hadir dalam hidupku. Seseorang yang sikapnya begitu hangat padaku, dan yang diberikan Alam padaku. Dalam cakupan Supernatural, Ibuku & Bapa Leluhur pelindung marganya memperjodohkan kami atas sebab masalalu yang aku belum mengerti sampai saat ini. Serang sosok Bapak, Leluhur Suci pembuka daerah Guangzhou (Tiongkok), yang pernah kuanggap kakekku sendiri di masa kecilku, bahkan Beliau masih menganggapku demikian meski aku agak mengenyampingkannya. Ya itulah orangtua, memang ada "Parents in Law" tapi gapernah ada yang namanya "ex-Parents".

Atas pertimbangan panjang yang entah bagaimana, Alam seolah menunjukkan jikalau kami ini sejalan & setujuan. Entah apakah ia menangkap pula "tanda Alam" tersebut, atau tidak. Yang pasti, aku sudah pada taraf yakin bahwasanya kami ini segaris & seikatan tak terpisah, entah mengapa, meski kami belum bersama. Ya, mungkin saja ini perasaanku saja, dan aku harus menunggu pertanda yang lebih jelas darinya, tapi segala hal dalam hidup ini toh pada hakikatnya perlu dan akan berproses bagaimanapun caranya. Dan masa proses penantian inilah yang tengah aku jalani.

Dalam perhitungan sederhanaku, semua bisa berjalan baik ke depan bilamana tak ada unsur "penekanan", dimana keduanya dapat saling menerima apa adanya dengan "seadanya", bukan mengada-ada apalagi dipaksa ada. Akan tetap baik untuk menjadi 11 dibanding 2. Tetap ada peluang gagal dibalik peluang keberhasilan, dan ada ketakutan dibalik gigihnya sebuah usaha bagaimanapun itu...

Pada akhirnya, aku membung mimpi masalaluku. Mimpi cita & angan terdahulu dengan sosok masalalu itu semata-mata demi janji & restu orangtua. Tanpa mengurangi & menghapuskan rasa hati pada masalalu itu, aku harus membiarkan rasa itu pergi dan berlalu. Bukan karena rasa itu tak hidup lagi disini, tapi karena ia tak lagi mau sejalan denganku & ia enggan menerimaku apa adanya dengan sepenuhnya dan "seadanya".


Just follow My Heart, and I believe that Mother of Nature will lead our steps forward ~

Sabtu, 10 Mei 2014

Aku, Dia, dan Kamu ...

... mungkin sudah habis semua kata di bibir ini untuk mengucap bagaimana apresiasi Hatiku padamu. Tapi ketahuilah, sesuatu yang pasti bahwasanya aku merindukanmu untuk kebersamaan kita kelak. Aku mengasihimu sekasih-kasihnya aku padamu, lebih daripada sebersit nyawa tubuh ini dan sehela nafas torak ini. Hati ini milik kepunyaanmu sajalah, tak ada yang lain ~





Bagi sebagian besar orang, melawan takdir adalah hal yang amat tabu, dan kadang merugikan. Adakalanya, kita berhak untuk menerima hal yang lebih baik, namun kita tetap memaksakan sesuatu yang sesungguhnya tak baik, dan tak diperkenankan untuk kita, dengan alasan "jauh dibawah standar" tersebut. Naluri kita tahu pasti hal tersebut kecil peluangnya untuk diraih, namun kita berharap, beraspirasi, mencoba "menambah tabungan demi tukar tambah", dan aksi-aksi positif lainnya yang merujuk jalan kita kesana, agar mudah meraih hal tersebut. Mungkin, inilah yang tengah kulakukan. Lucu ya, seseorang yang tahu persis apa dan bagaimana takdirnya, yang justru seharusnya bisa memperoleh hal yang jauh lebih baik, yang diimpikan kebanyakan orang, justru memungirinya, kemudian beraspirasi agar sesuatu yang "berada dibawah standar" bisa dirubah keadaannya agar lebih baik, setidaknya agak cocok. Tak perlu mirip, serupa, apalagi identik dengan yang seharusnya diperoleh tersebut.

Ya, lagi-lagi ini soal jodoh, pasangan, dan pendamping hidup, hal yang menjadi prioritas utamaku, tak ada yang lain. Aku hanya punya satu mimpi akan hal itu, dan itu adalah dia. Suatu sugesti alam bawah sadar yang kerap kutanamkan selalu senantiasa tanpa henti, sebagai satu-satunya motivasi kehidupan bagiku, yang secara dahsyat tiba-tiba merubah jalan pola pikirku untuk melangkah, malahan melompat, 10 langkah lebih jauh ke depan daripada yang biasa kupikirkan, lepas dari karakterku yang suka untuk apa adanya, praktis fleksibel. Pembunuhan karakterkah? Bisa kukatakan NYARIS! Ya, inilah aku. Apapun demi Cinta yang menjadi tujuan akhir hidupku berlabuh, dialah Cinta, dan apapun kuusahakan yang terdahsyat yang kusanggup hanya untuk demi dan hanya untuk dia, dia, dan sekali lagi dia. Tak ada yang lain.

Ya, aku tau. Kanjeng Bopo Angkoso lan Kanjeng Ibu Bumi selalu memberi penawaran terbaik yang seharusnya aku bisa raih atas karmaku. Aku tahu, aku sangat appreciate, aku sangat bersyukur, dan akupun tak meluputkan kasihku padanya. Seorang Imam Wanita Agung Pagan diberikan padaku, dan aku tahu dia yang 98% PERFECTO! dannnn.... aku tak bisa pungkiri itu, aku akan bahagia sangat memiliki dia. Aku lihat kepolosan Hati yang ditunjukkannya sedikit padaku, dan aku tahu apa artinya. Hatiku tak buta samasekali. Tiap pemberianku itu punya arti, dan tak sembarangan kuberikan, ini catatanku untuknya. Dia adalah teman hidup terbaik yang aku inginkan dan idam-idamkan, sahabat hidup dan sahabat Spiritual, luar biasa... Tapi, atas alasan itulah aku enggan memberi ia mimpi samasekali. Aku tak mau mendua, aku cuma punya satu mimpi, dan ................................... (aku sudah kehabisan kata-kata disini, ketika setetes air mata membasahi masing-masing pelupuk mataku ...)

Tapi 1 yang pasti. Jika mimpiku untuk dia yang aku impikan & cita-citakan selalu, ditolak, aku akan kembali untukmu. Aku tau saat ini dimanapun kamu berada, kamu bisa merasakan hal ini. Aku memang tak bisa mengatakan hal ini langsung padamu, betapa dosanya aku pada Ibu Bumi yang menghidupi aku dan Bapak Angkasa yang menaungi aku, bilamana aku mengatakan janji ini. Tapi, peganglah kata-kata ini, karena akupun akan memegangnya: jika dia tidak kembali, aku akan pulang ke hatimu, hati yang seluas Angkasa, sedalam Samudra, seliar Belantara, dan se-membahana gemuruh Guntur. Hati yang sejiwa dan senaluri dengan Alam, Hati yang Sehati dengan ku. Mengapa?
1. Aku harus menepati janji Hati & Cintaku. Apa yang terbaik itu tak ada, hanya bagaimana kita menjalani dan mengisinya, itulah yang membuatnya menjadi baik, indah, atau malahan hancur ...
2. Aku tak mau dia mengacak-acak semua hal baik dan indah yang nantinya kita rencanakan. Ketahuilah, dia akan melakukan segala hal untuk membawaku kembali, dan bila itu terjadi maka apa yang dulu pernah aku rasakan akan kembali, dan aku 'tak mau itu ...

Senin, 05 Mei 2014

Keyakinan Yang (telah) Matang!

Atas nama Cinta, aku sudah 'tak ragu lagi melangkah, mempersiapkan + mengisi kehidupan, dan menunggu hanya untuk Dia. Hari ini, iman Cintaku akan Dia dikuatkannya kembali. Ia meyakinkanku bahwa Ia akan menggenapi janjinya.

Hari ini, aku sedikit belajar bahwa tiap orang umumnya memiliki "sentimen-sentimen pribadi", entah pada seseorang atau sebuah keadaan, baik sentimen positif maupun negatif. Dan disinilah aku menyadari, bahwa aku memang perlu mempertimbangkan saran seseorang, tapi terdahulu menimbang adakah unsur sentimen pribadi di dalamnya.

Setiap orang menginginkan hal yang terbaik bagi Sahabat, Saudara, maupun Karib nya. Melalui pemberian saran, diharapkan orang terkasihnya ini mempertimbangkan saran mereka untuk kebaikan dirinya. Pasalnya, acap saran yang diberikan mencakup sentimen pribadi si pemberi saran, baik sengaja maupun tidak.

Ya, penyesalan selalu datang belakangan. Senantiasa belajarlah dari pengalaman pribadi, maupun mereka yang berkenan berbagi agar tak. Sama seperti penyasalanku akan Dia, yang kini hanya bisa kunanti hingga waktu mengizinkan kami bersanding.

Waktu mendewasakan masing-masing dari kami, entah dari dalam maupun luar. Ia tak lagi seperti yang dulu, ia kini menjadi jiwa yang diidam-idamkan. Sebuah kebahagiaan bagi mereka yang sanggup menjaga dia dan hatinya, namun celakalah mereka yang menyia-nyiakannya.. Ia adalah Pasangan terbaik yang pernah ada.

Semoga aku sanggup membahagiakan dia setiap saat, membawa dia dalam mimpi-mimpi terdalamku, mewujudkan setiap asa dan cita yang diimpikannya, dan tak'kan pernah melepaskannya sampai kapanpun.

Tepat tanggal yang sama dengan hari ini, 19 bulan yang lalu, kami membaharui ikatan hubungan kami. Dan hari ini, ia memberikanku hadiah terindah yang belum pernah aku dapat selama 19 bulan: aku melihat kesetiaannya dengan pasangannya, dan dia datang padaku sebagai pasangan terbaik bagi pasangannya itu.

Mungkin hari ini aku masih tampak dungu seperti dulu saat kami bersama, tapi aku mendengar tiap apa keluhan hatinya dengan cara yang tak diketahuinya. Sedikit kecewa terbersit, tapi ya sudahlah. Aku sangat bahagia dengan ia yang kini bisa menjaga hati hanya untuk satu jiwa terkasihnya, dan yakinku ini akan membawanya untuk mendapatkan pasangan terbaiknya, entah dengan pasangannya kini yang kemudian berubah hati, dengan seseorang yang lebih baik, atau denganku yang kelak telah dipersiapkan hanya untuk dia. Memang aku bukan yang terbaik, tapi aku akan mengusahakan yang terbaik yang bisa kuberikan untuknya.

Satu hal lagi yang belum aku bisa pelajari dan matangkan: mempercayai pasangan sepenuhnya tanpa kecurigaan dan kecemburuan sedikitpun untuk hal-hal sepele. Mungkin seandainya aku bisa membinasakan memori jiwa ini tentang ia yang pernah tidak menjaga hati untuk pasangannya dan berpaling padaku, aku akan bisa melakukannya. Jaganatha, Tuhan Semesta Alam Yang Maha Termulia, bimbinglah hati ini agar benar-benar baru, siap, dan matang, hanya demi dan untuk dia seorang, Penantian Jiwa Terdalamku ~

Selasa, 29 April 2014

Atas Nama Cinta ...

Sempat lelap di subuh tadi hingga kira-kira pukul 5:30 pagi, dan hingga detik ini belum (bisa) terlelap, semata faktor kurang fit nya tubuh ini & hati ini ...

Ditinggal sehari lagi tanpa kabar adalah kepedihan mendalam, sama seperti tubuh tanpa tulang. Apakah dulu aku setega itu memungkiri dia & rasa di hatiku? Semata dulu aku melakukannya karena ia mempunyai pasangan yang dibangga-banggakannya di khalayak, dan aku hanya sampingannya. Apresiasi rasa sedih & kepedihan hati akibat penghianat hati...

Satu tahun, waktu bergulir begitu cepat, dan aku kini kembali untuk menanti dia kembali, semata karena aku 'tak menemukan pribadi seperti dia. Pribadi paling ideal & sempurna untukku, untuk menjadi pendampingku, dan Ibu dari Anak-anakku. Mungkin kalimat ini selalu akan berulang, karena itulah yang terindah bagiku & itulah hadiah termanis yang kuberikan pada seseorang yang sangat Kucintai dengan Hati & Jiwaku.

Sepahit inikah siksaan hati yang dulu kuhukumkan padanya? Dan apakah ia bisa dan berkenan kembali ke hati yang pernah menyakitinya ini? Dan akhirnya, bisakah aku pulang ke Hatinya lagi?

Akankah ia kembali padaku & menjadikanku Lelaki paling bahagia yang pernah ada? 

Aku kehilangan dia, aku merindukannya, aku ingin ia kembali, dan aku ingin berpulang hanya ke hatinya. Tak ada kekelan yang mampu selamanya memisahkan kami, dan tak ada keabadian yang mampu menghalangi jalan hati kami. Itulah mimpiku. Entah mimpi di siang bolong ataukah akan terwujud, semuanya rahasia Semesta Raya. Tapi, aku akan tetap bermohon sampai kapanpun, hingga 'tak ada yang mampu memisahkan kami, karena Langit dan Bumi lah yang menjadi penjaga hubungan kami...







... Tata, aku ingin pulang ke Hatimu lagi,
dan aku gak akan pergi kemana-mana lagi.
Aku mau hidup disana sampai kapanpun, hanya untukmu
dan menghabiskan sisa waktu untuk hubungan kita.

Entah hanya satu kelahiran lagi,
atau bahkan hingga berjuta-juta kelahiran lagi.
Aku mau menghabiskannya hanya denganmu,
berbagi Hati & Cinta hanya untukmu,
dan kita akan bersama-sama melangkah
menuju Pembebasan Mutlak,
dan membuka jalan Pembebasan bagi mereka
yang ingin bebas hanya lewat Cinta.

Mulai hari ini, sampai kapanpun
inilah ikrar hatiku, atas nama Cinta ...

Senin, 28 April 2014

Kamulah Pasangan Terindahku ...

"Memilih pasangan sembarangan itu dosa, karena gak cuma "mencelakakan" diri sendiri, tapi juga orang lain......"
Mungkin gak sih seseorang yang mengungkapkan hal ini "sembarangan" dalam memilih pasangan? Yakinku sih tidak, dan moga-moga tidak. Untukku, ungkapan ini kutulis dengan sadar dan "terang".



Seseorang kembali dari masa lalu, dan entah kenapa aku yakin bahwa dialah yang terbaik untukku. Cukup kuat rasa di jiwa ini untuk pelan-pelan mengikis rasa sakit masa lalu yang pernah timbul. Jelas sih, sekarang aku enggan menyalahkan siapapun atas rasa sakit itu, aku cuma ingin membangun imagi positif dalam batin & pikiranku tentang dia.

Baru saja aku terjaga & shock sangat dengan apa yang ditulisnya via Messenger tersebut. Aku sontak berfikir jernih dengan kepala dingin, jauh ke depan. Sudah kedua kalinya aku berfikir terlalu jauh ke depan hanya demi & untuk dia semata. Bukan cuma menghibur, tapi ini planning jangka panjang yang siap kumatangkan.

Dalam hidup, kita semua akan melalui proses-proses pematangan batin & pikiran, dalam berbagai aspek kehidupan tentunya. Proses panjang yang tak akan pernah selesai hingga kita memasuki sebuah bilik berukuran 1 x 2. Dan, akupun sudah siap untuk dia dengan segala resikonya.

Aku hanya ingin membiarkan dia matang lebih dahulu, untuk berfikir masak apakah tawaranku ini bercanda atau serius. Dan apakah aku yakin dengan hatiku atau tidak.

Pesan balasan darinya yang panjang & membuatku shock itu, yang isinya pernyataan rasa sakit masa lalu nya akan aku, ke engganan menjadi pilihanku karena merasa gak pantas, dan keinginan menganggap hubungan masa lalu kami tak pernah ada. Pernyataan mirip dan senada dengan apa yang dulu pernah diutarakannya, semata karena kekecewaannya.

"Dear... pernahkah kamu berfikir bahwa aku perlu mematangkan pikiran & batinku untuk siap bersanding denganmu? Dan tahukah kamu mengapa aku begitu yakin & siap bersanding denganmu? Dan harus pulakah aku bicara bahwa kedua orang tuaku telah mempersiapkan tempat kita menetap setelah bersatu nanti? Please yakinlah dengan Hatiku saja, terimalah aku seadanya, dan kamu akan memperoleh "seadanya" dari apapun yang aku punya, apapun itu..."

Tak mungkin aku membicarakan soal lahan sepetak & sepotong kamar itu dengan seseorang yang tak yakin dengan hatiku. Aku mau ia memilih aku semata-mata karena aku & hatiku saja, bukan melihat pada aset tersebut...

Kenapa aku memilih lagi ia, bukan seseorang yang dijanjikan untukku? Karena aku yakin kesempurnaan datangnya dari kesatuan dua orang yang tak sempurna, yang berusaha menjalaninya dengan indah. Keindahan itulah "sejatining" kesempurnaan...

Rasanya, sisa malam yang masih panjang ini terlalu indah dan menyedihkan bila dilalui dengan beristirahat. Biarkan aku terjaga, supaya aku bisa mematangkan lagi isi kepalaku, semua tentang bagaimana langkah hidupku jauh ke depan, yang semata-mata hanya untuk & demi dia, mimpi-mimpinya, dan kebahagiaan kami, juga anak-anak kami kelak.

Aku mau hidup hanya untuk & demi dia seorang. Aku hanya mau mengikuti hatiku saja, karena ialah yang terbenar. Dan hatiku berujar, dialah yang terindah & terbaik untukku, tak ada yang bisa menyayangiku melebihi dia. Tak ada yang lebih layak menjadi ibu dari anak-anakku selain orang seperti ibuku, dan aku telah menemukan pembawaan itu dalam dirinya.

Inilah aku, hidupku, mimpiku, cita-cintaku, dan angan-anganku yang terdalam. Mimpi yang ingin aku bangun dari nol bersama & untuk dia seorang semata ...

Jumat, 25 April 2014

Cita-Ci(n)ta seorang Martin Ting

Banyak orang enggan & berusaha menghindari sesuatu/seseorang dari masa lalu demi mencari yang "nampaknya" lebih baik dan/atau terbaik. Demikian pula soal "relationship".

Banyak orang enggan "menoleh ke belakang" pada "someone special di masa lalunya", meninggalkannya semata itu sejarah yang hanya perlu diingat namun bukan untuk dihidupi, dan terus berjalan menatap ke depan.

ada sebuah ungkapan yang berujar "masih ada langit diatas langit". Lantas, akan berjalan kemanakah mereka? mungkin mengakhiri pilihan dengan yang lebih baik, tapi jangan pernah lupa bahwa tak ada satupun insan yang sempurna.

aku hanya mencoba menjadikan "masa lalu" ku sebagai penghantarku ke masa depan, dan menjadikannya sebagai masa depanku: Pasanganku, "Teman hidup"ku, dan Ibu bagi putra-putriku kelak.

Dan demi itu, aku menjalani penantian ini hingga ada jawaban pasti antara 2 kemungkinan: Tuhan Semesta Alam menyatukan ia dengan seseorang yang lebih baik diluar sana, atau ia kembali membuka pintu hatinya bagi "masa lalu" yang pernah menyakiti hatinya ini...




Jakarta/Jumat, 25 April 2014
22:32 WIB

Selasa, 25 Februari 2014

Perkenalan

Salam kenal dunia... Sebut saja aku Martin, Martin Ting, yang genap 21 Juli 2014 ini akan berumur 23 Tahun. Masih bocah ya? hihihi... Anak tunggal dari sebuah keluarga kecil yang tinggal di Tomang, Jakarta Barat. Seorang bocah yang gemar dengan Sejarah, Budaya, Spiritualitas, Supernatural, Jalan-jalan, dkk.

Latarbelakang pendidikanku: 6 tahun SD + 4 tahun SMP & 4 tahun juga SMA. Akhirnya, atas saran rekan2 & desakan ortu, + sedikit keserempet dengan salah 1 kegemaranku, saat ini aku tengah menjalani studi di salah satu Akademi Pariwisata di Jakarta, Jurusan Usaha Perjalanan Wisata.

Kalo di Blog pertamaku yang super sepi, yang totalitas untuk Spiritual, lain dengan disini. Di Blog keduaku ini aku akan lebih berbagi tentang secuil perjalanan kisah hidupku, yang mungkin agak monoton, penuh kegalauan, meski sesekali ada kejutan didalamnya, sebuah kehidupan normal seorang manusia. Tetap akan ada sisi Spiritual ku, moga2 gak jenuh untuk Sedulur-sedulur yang mampir kesini qiqiqiqiqiqiqi...

URL & Display Name di Profile ku mungkin agak jadi pertanyaan, sekilas ku bahas dikit. Sarva & Satya adalah 2 nama yang paling sering kupakai untuk ID forum. Awal kuambil jg asal, karena nama itu yg paling kuingat & mengena di awal-awal pengenalanku akan Spiritualitas. Lama-kelamaan aku merasa menjiwai nama yang kupakai itu. Sarva berarti semua/keseluruhan, Satya berarti sejati. Sarva Satyanam berarti segala sesuatu yang bersifat sejati. Nama yang membawaku pada perjalanan Spiritual ku hingga di titik ini.

Ok deh, sekian dulu perkenalanku, gak pake panjang lantaran bingung mau tambahin apa lagi :p