Untuk waktu yang sudah-sudah, aku sangat antusias mengikuti naluriku untuk kembali pada masa laluku. Masa lalu yang kini nampak lebih baik. Meski pada akhirnya ia tak dapat memutuskan dapatkah aku menunggu atau tidak, dan sampai kapan aku harus menunggu.
Ok. Bolehlah dia atau orang lain beranggapan bahwa aku ini pengkhianat hati, seseorang yang berhianat pada naluri jiwanya, mimpinya dan seseorang/sesuatu yang awalnya menjadi target hidupnya. Aku bimbang, pada awalnya, apakah aku memang harus menunggu terus ia yang membuatku seolah menjadi "The Hangged Man" dalam Major Arcana Riderwaite Tarot, alias korban PHP, atau "melihat" pada seseorang baru yang hadir dalam hidupku. Seseorang yang sikapnya begitu hangat padaku, dan yang diberikan Alam padaku. Dalam cakupan Supernatural, Ibuku & Bapa Leluhur pelindung marganya memperjodohkan kami atas sebab masalalu yang aku belum mengerti sampai saat ini. Serang sosok Bapak, Leluhur Suci pembuka daerah Guangzhou (Tiongkok), yang pernah kuanggap kakekku sendiri di masa kecilku, bahkan Beliau masih menganggapku demikian meski aku agak mengenyampingkannya. Ya itulah orangtua, memang ada "Parents in Law" tapi gapernah ada yang namanya "ex-Parents".
Atas pertimbangan panjang yang entah bagaimana, Alam seolah menunjukkan jikalau kami ini sejalan & setujuan. Entah apakah ia menangkap pula "tanda Alam" tersebut, atau tidak. Yang pasti, aku sudah pada taraf yakin bahwasanya kami ini segaris & seikatan tak terpisah, entah mengapa, meski kami belum bersama. Ya, mungkin saja ini perasaanku saja, dan aku harus menunggu pertanda yang lebih jelas darinya, tapi segala hal dalam hidup ini toh pada hakikatnya perlu dan akan berproses bagaimanapun caranya. Dan masa proses penantian inilah yang tengah aku jalani.
Dalam perhitungan sederhanaku, semua bisa berjalan baik ke depan bilamana tak ada unsur "penekanan", dimana keduanya dapat saling menerima apa adanya dengan "seadanya", bukan mengada-ada apalagi dipaksa ada. Akan tetap baik untuk menjadi 11 dibanding 2. Tetap ada peluang gagal dibalik peluang keberhasilan, dan ada ketakutan dibalik gigihnya sebuah usaha bagaimanapun itu...
Pada akhirnya, aku membung mimpi masalaluku. Mimpi cita & angan terdahulu dengan sosok masalalu itu semata-mata demi janji & restu orangtua. Tanpa mengurangi & menghapuskan rasa hati pada masalalu itu, aku harus membiarkan rasa itu pergi dan berlalu. Bukan karena rasa itu tak hidup lagi disini, tapi karena ia tak lagi mau sejalan denganku & ia enggan menerimaku apa adanya dengan sepenuhnya dan "seadanya".
Just follow My Heart, and I believe that Mother of Nature will lead our steps forward ~