2 tahunan sudah rasanya aku berpisah dari dia, tapi bahkan sampai saat ini hatiku masih ada untuknya. Di deranya samudra Cinta ia & kekasih jiwanya yang amat "complicated" sebenarnya aku ingin mengambil dia sebagai pendamping. Keinginan yang ada jauh sebelum hari ini, 3 tahun yang lalu, yang aku telah utarakan padanya. Namun, ia enggan. Dalil2 dikemukakan sebagai alasan, usaha2 ditunjukkan sebagai alibi. Tapi, semua sia2 karena ada yang sudah mencuri startku ~
Antara bahagia, namun bimbang, itulah isi rasa ini. Rel hidupku memang disini, sudah benar. Hanya aku saja yang dengan bodohnya meragukan hal itu. Semua demi Hati dan perasaan yang tak berujung & tak bermuara, serta tak pernah (bisa) (di)salah(kan) ...
Aku merasa menjalani kehidupan yang serba salah. Salah, bila aku mengikuti Hati & rasa sepenuhnya hingga rasaku bercabang, tapi salah pula jika aku enggan mengikuti Hati ini. Cinta & Sayang ini untuknya terlalu dalam, dan terlalu luas, sampai saat aku haru menakarnya itupun tak habis-habisnya. Kalau dirubah, seumpama menawarkan lautan yang asin. Kadar keasinannya mungkin saja turun 0,000 sekian persen, tapi tetap saja rasa asin itu tak lantas hilang ~
Malam demi malam berlalu, hari demi hari berganti
Tapi Hati ini tak mudah berlalu
Seumpama Wajra yang tak tergoyah
Dan bagai semadi seorang Begawan
Cinta itu Murni
Hati itu Suci
Rasa 'tak bisa dusta
Jiwa 'tak mungkin cemar
Lantas, salahkah jalan ini?
Apapun yang telah dihirup
Akan manunggal dengan si penghirup
Menyatu dan tak terpisahkan
Terkikis, namun 'tak mungkin habis
Apa yang bersumber, memiliki muara
Hati ini seumpama samudra, yang sejatinya tak berawal
Jiwa ini seumbama semesta, yang sejatinya tak berasal
Lantas, bagaimana seseorang mau merubah Hati lainnya
Bahkan pemilik Hati itupun tak bisa merubahnya
Jalan Hati dan jalan pikir kadang sejalan
Namun, acap juga tak sejalan
Lantas, bila dikata Hati yang murni bisa salah
Bagaimana mungkin pikir tak bisa cela
Tidak ada komentar:
Posting Komentar